Berita

 Network

 Partner

Rumah Pemimpin Masa Depan

Penulis : Wahyu Mukhtar Asafurla (Pj Komandan Brigade PII Sumsel)

Seyogianya suatu rumah tentu ada penghuninya, rumah yang indah nan bersih kalau tidak ada penghuninya lama kelamaan rumah tersebut akan terlihat kotor dan bahkan bisa rusak. Kalaupun ada penghuninya, mereka harus melakukan aktivitas yang baik, seperti merawatnya agar rumah tersebut tetap indah dan bersih.

Pelajar Islam Indonesia (PII), Organisasi Pelajar Yang tertua di Indonesia Berdiri hari Ahad, 4 Mei 1947 M/ 12 Jumadi Tsani 1366 H di Yogyakarta dengan tokoh pertamanya Yoesdi Ghazali. PII tempat berkumpulnya Pelajar yang di bentuk menjadi Pemimpin, dengan segudang aktivitas yang menunjang ke intelektualannya sehingga nanti menjadi masyarakat yang maju.

Berita Terkait :  Upacara Penurunan Bendera Diguyur Hujan

Anies Baswedan. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI ke-29, yang sekarang Gubernur DKI Jakarta mengatakan, Atas nama Negara saya terima kasih kepada PII yang telah mensuplai pemimpin di Indonesia. Bukan (PII) berterima kasih kepada saya, (justru) saya yang berterima kasih. Republik ini bisa seperti ini karena ada orang-orang yang tidak memiliki kewajiban konstitusional untuk mengkader, namun memilih mengkader pemimpin. Dan itu dimana? (di) Pelajar Islam Indonesia.

PII memiliki Profil ideal kader yaitu Muslim, Cendikia, Pemimpin. Kader-kader PII mempunyai segudang aktivitas di dalam “Rumah” maupun di luar “Rumah”. Segudang aktivitas itu seperti melaksanakan Pengkaderan atau pendidikan (baik formal maupun non formal), membaca, menulis, berdiskusi dan serta tradisi-tradisi intelektual lainnya yang bertujuan untung menunjang kepemimpinan, keislaman, dan keindonesian dengan ide-ide dan gagasan yang maju, kepribadinya yang utuh dan sikap nya yang baik.

Berita Terkait :  Kebijakan Pemerintah Penentu Nasib Buruh

Tradisi intelektual di PII menunjang kualitas kader-kader, PII bukan organisasi massa atau organisasi partai politik yang lebih mengutamakan massa, hal itu berlainan dengan PII. Kuantitas memang penting, akan tetapi tidak ada gunanya kuantitas ini jika tidak di barengi dengan kualitas kader.

Untuk meningkatkan kualitas kader PII tentunya budaya-budaya Intelektual seperti membaca, berdiskusi dan menulis tidak boleh dilepaskan. Sejarah mencatat bahwa perjalanan PII banyak melahirkan kader-kadernya yang menjadi cadangan sumber daya manusia berkualitas.

PII akan konsisten mencetak pemimpin serta terus Berupaya mencapai tujuannya yaitu “Kesempurnaan Pendidikan dan Kebudayaan yang seusai dengan syariat Islam bagi segenap bangsa Indonesia dan seluruh umat manusia”

Berita Terkait :  Kisah Sukses Hengki Irawan, Perantau OKU Selatan di Tanah Orang